Kamis, 19 April 2012

JURNAL MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS DENGAN FINGER PAINTING PADA SISWA DOWN SYNDROME KELAS C1 DASAR 3 DI SLB WACANA ASIH PADANG



Dra. LIFYA
  Abstrak :  This study uses action research methods class (classroom action research) with a workflow that consists of four series of planning, action, observation and reflection. By collaborating with classroom teachers. Students research the subject of a Down's syndrome. The research data were collected using observation, discussion and testing. The results achieved in a single cycle has not been fully successful or not optimal because the line that made ​​the child is still disjointed and not follow the pattern. In the second cycle can result in better line was made ​​almost completely and follow a pattern. this activity is carried out by the children well. After the second cycle of action. Students can follow the Piola and 60%. Finally, the conclusions of this study can be taken to improve the ability to fine it is recommended to educators and therapists to use as an alternative therapist Fingger Painting in fine motor exercises for students Down syndrome


Kata kunci : Latihan Motorik halus, Finger Painting
 
PENDAHULUAN
Masa kecil sering disebut sebagai “ saat ideal” untuk mempelajari  kemampuan  motorik. kemampuan motorik tidak akan berkembang melalui kematangan  saja . Melainkan  keterampilan itu harus dipelajari dan di latihkan secara teratur. Karena pengalaman belajar dan harapan orang dewasa yang serupa, biasanya diantara semua anak dalam kebudayaan tertentu ditemukan kemampuan motorik yang sifatnya umum. Sebagai contoh  semua anak diharapkan untuk bisa makan sendiri,  berpakaian sendiri, menulis dan memainkan permainan yang disetujui oleh kelompok sosial. 

            Perkembangan motorik yang terlambat berarti perkembangan motorik yang berada di bawah norma umur anak. Akibatnya pada umur tertentu  anak tidak menguasai motoriknya dan anak dipandang sebagai anak yang terbelakang. Keterlambatan  lebih sering disebabkan kurangnya kesempatan untuk mempelajari keterampilan atau latihan motorik, perlindungan orang tua yang berlebihan atau kurangnya motifasi anak untuk mempelajarinya.
          
Perkembangan motorik yang terlambat berarti perkembangan motorik yang berada di bawah norma umur anak. Akibatnya pada umur tertentu  anak tidak menguasai motoriknya dan anak dipandang sebagai anak yang terbelakang. Keterlambatan  lebih sering disebabkan kurangnya kesempatan untuk mempelajari keterampilan atau latihan motorik, perlindungan orang tua yang berlebihan atau kurangnya motifasi anak untuk mempelajarinya. 
Pengaruh perkembangan motorik yang terlambat berbahaya bagi penyesuaian sosial dan pribadi anak yang baik.Akhirnya menimbulkan masalah emosi dan perilaku. Bagi anak Down Sindrom  (Down syndrome) yang  merupakan kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21 pada berkas q22 gen SLC5A3, yang dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongoloid maka sering juga dikenal dengan mongolisme. Pada tahun 1970an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali sindrom ini dengan istilah sindrom Down dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama. Bagi yang mengalami kelaian kromosom dapat dilihat dari manifestasi klinis yang cukup keras. Pengaruh perkembangan motorik dapat berdampak pada perkembangan pertumbuhan fisik dan mental dalam belajar di sekolah.  Sering ditemukan anak yang mengalami kesulitan dalam kegiatan menulis. Hal ini disebabkan oleh salah satu kemungkinan yaitu faktor kemampuan motorik halus anak yang kurang baik. pada motorik halus anak diharapkan terampil dan cermat menggunakan jari-jemarinya dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Kemampuan motorik halus merupakan salah satu yang mempengaruhi  kemampuan anak dalam menulis. Untuk dapat menuliskan sesuatu dengan baik dan benar perlu ada latihan  mulai dari yang mudah sampai kepada yang sukar sehingga gerakan yang ditimbulkan tidak kaku dan kasar lagi.
 
Berdasarkan temuan sehari-hari saat belajar menulis di kelas Tunagrahita sedang dasar 3 ( C1 Dasar 3) penulis menemukan anak Down  Sindrom yang sering mengeluhkan tangannya sakit, capek sehingga anak malas untuk menulis,Hal ini bukan dikarenakan malas semata tetapi lebih dikarenakan pengendalian otot tangan,bahu dan pergelangan tangan yang belum terlatih maka anak kurang temotivasi untuk menulis. Anak cepat pegal dan capek karena tekanan yang dilakukan masih kasar dan keras, Tulisan yang dibuat bisa diraba dan berwarna hitam .
Dalam pembelajaran menulis selama ini guru sudah memberikan latihan motorik halus dengan menggunakan platisin  cuma latihan menulis  yang diberikan  langsung menuju bentuk- bentuk huruf yang berukuran 2x2 cm dan 1x1 cm pada buku berkotak. Dalam pelajaran menulis dipengaruhi berbagai faktor kematangan  atau kesiapan yaitu faktor motorik. perilaku ketika menulis, persepsi, memori, kemampuan cross modal, dan penggunaan tangan dominan ( kidal atau bukan). Sebelum anak belajar dan mampu menulis huruf harus dimatangkan terlebih dahulu. Untuk melatih motorik halus tersebut juga diperlukan media. Sedangkan di sekolah terlihat usaha untuk menciptakan media untuk melatih  kemampuan motorik halus anak belum maksimal. Anak hanya dilatih oleh guru dengan menggunakan platisin dan itupun tidak kontiniu.

Dengan pertimbangan tersebut peneliti menyepakati dengan kolaborator untuk menggunakan finger painting . Kegiatan  finger painting yang diberikan kepada anak berupa kegiatan melukis dengan menggunakan pasir, dan kanji. Kanji dimasak dari tepung maizena yang diberi beraneka ragam warna yang menarik. Anak akan melukis dengan jari jemarinya dengan menggunakan kanji yang berbentuk lem tadi. Hal ini juga berlaku pada pasir yang diletakan diatas nampan anak diberi kebebasan menggunakan pasir tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan jawaban sementara dari pertanyaan penelitian yaitu untuk menjelaskan apakah finger painting  dapat meningkatkan kemampuan motorik halus  anak Down Sindrom  di  SLB Wacana Asih Padang.
             Untuk itu penulis  bermaksud untuk mengadakan penelitian Tindakan kelas yang berjudul meningkatkan kemampuan motorik halus dengan finger painting pada anak down sindrom kelas C1 dasar 3 di SLB Wacana Asih Padang. Manfaat penelitian ini bagi siswa adalah
agar dapat  bermanfaat bagi Guru atau terapis sebagai masukan dan pertimbangan dalam upaya meningkatkan kemampuan motorik halus anak Down Sindrom dan membuktikan bahwa kegiatan finger painting dapat meningkatkan motorik halus anak Down Sindrom.
 
 Motorik dan gerak seringkali menjadi satu. Motorik dapat diartikan sebagai suatu rangkaian  peristiwa laten yang tidak dapat diamati dari luar. Pengertian umum ini belum dapat memberikan kejelasan yang lebih tajam , untuk itu diperlukan suatu definisi yang lebih operasional. Menurut Wtarsono(2009), motorik adalah suatu peristiwa laten yang meliputi keseluruhan proses pengendalian dan pengaturan fungsi. Fungsi organ tubuh  baik secara fisiologis maupun secara psikis yang menyebabkan terjadinya suatu gerak peristiwa. Peristiwa laten yang tidak dapat diamati tersebut meliputi antara lain: Penerimaan informasi atau stimulus , pemberian makna terhadap informasi, pengolahan informasi, proses pengambilan keputusan dan dorongan untuk melakukan berbagai bentuk aksi motorik. Setelah itu dilanjutkan  dengan peristiwa fisiologi yang meliputi pemberian.Pengaturan dan pengendalian imflus kepada organ tubuh yang terlibat dalam melaksanakan aksi motorik. Sebagai hasil dari peristiwa laten tersebut adalah gerak yang dapat diamati dalam dimensi ruang dan waktu. Hal senada juga dikemukakan oleh Andang Ismail ( 2006). Bahwa motorik adalah semua gerakan yang mungkin dilakukan oleh seluruh tubuh, sedangkan perkembangan motorik sebagai perkembangan dari unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. Perkembangan motorik erat kaitannya dengan perkembangan pusat motorik diotak. Secara umum kemampuan motorik terdiri dari motorik kasar dan motorik halus.
            Menurut Wtarsono ( 2. 009: 12 ), stimulasi motorik halus dapat dilakukan melalui kegiatan berupa :. Finger painting. Yaitu melukis dengan jari melatih mengembangkan imajinasi, memperhalus koordinasi motorik halus, dan mengasah rasa seni,khususnya seni rupa.
Finger Painting berasal dari bahasa Ingris, Finger artinya jari sedangkan Painting  artinya melukis. Jadi Finger Painting adalah melukis dengan jari. Menurut Gazali Solahudin ( 2008), Finger painting  adalah teknik melukis dengan mengoleskan kanji pada kertas atau karton dengan jari atau telapak tangan.dalam aktifitas ini dapat digunakan berbagai media dan warna, dapat menggunakan tepung kanji, adonan kue, pasir dan sebagainya.

                     Finger Painting ini dapat mempergunakan berbagai media dan warna, dengan menggunakan tepung kanji, adonan kue, pasir dan sebagainya.Aktifitas ini penting dilakukan  sebab akan memberikan sensasi pada jari sehingga dapat merasakan control gerakan jarinya dan membentuk konsep gerak membuat huruf .
METODE
Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian adalah penelitian tindakan kelas (Action Riset Class Room ) bertujuan untuk meningkatkan  kemampuan motorik halus dengan Finger Painting pada  anak Down Sindrome. Penelitian tindakan kelas ini merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki praktek mengajar dikelas. Suharsimi Arikunto (2006 : 3) mengemungkakan  bahwa penelitian tindakan kelas adalah “ Suatu pencermatan  kegiatan  belajar  berupa sebuah tindakan yang  sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama tindakan itu diarahkan oleh guru dan dilakukan oleh siswa”. Dari pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa penelitian tindakan kelas adalah. Penelitian yang dilakukan di kelas sebagai suatu upaya peningkatan kualitas pembelajaran atau bidang pendidikan sangat memperhatikan proses dan hasil. Adapun tujuan dari penetitian tindakan kelas adalah “ untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran dan mengatasi masalah pembelajaran. Meningkatkan profesionalisme dan menumbuhkan budaya akademik “( Arikunto, 2006) .Pada penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat.   Mulai dari perumusan masalah , sampai pada pengumpulan data. Dengan adanya kolaborasi ini maka diharapkan hasil penelitian ini  bisa menjadi solusi yang tepat untuk permasalahan yang ada.
Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dengan empat langkah meliputi: perencanaan (planning), pelaksanaan (action) pengamatan(observation). Siklus kedua pada penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada siklus pertama, dan dap;at dilanjutkan pada siklus selanjutnya sampai didapat hasil yang optimal. Karena keterbatasan waktu dalam hal ini peneliti hanya melakukan  latihan yang dilakukan di dalam kelas. Dalam setiap siklus dilakukan pembelajaran dengan menggunakan finger painting dengan media pasir dan kanji sehingga dapat melatih motorik halus siswa.

1.      Perencanaan
-          Bersama kolaborator menyepakati jadwal penelitian.
-          Menelaah kurikulum yang berkaitan dengan latihan motorik , analisis materi dan menyusun Rencana Pelaksanaan pembelajaran.
-          Menyusun LKS yang akan digunakan oleh Siswa dalam menghubungkan titik-titik berpola.
-          Menyusun intrumen penelitian ( alat pengumpul data), yakni instrumen Penelitian
2.   Pelaksanaan ( action}
Tindakan penelitian dilakukan sesuai dengan scenario pembelajaran yang telah dirancang pada tahap perencanaan. Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah
-          Menjelaskan tentang cara menggunakan media pasir dan kanji
-          Siswa melakukan latihan motorik halus dengan media pasir dan kanji
-          Menjelaskan tentang cara menghubungkan titik-titik berpola
-          Siswa menghubungkan titik-titik berpola.
3.      Observasi
Pengamatan terhadap hasil latihan siswa dilakukan oleh peneliti sebagai observer, hal-hal yang diobserver antara lain:
-          Kesungguhan siswa dalam melakukan latihan motorik halus dengan Finger Painting
-          Aktifitas siswa selama penbelajaran berlangsung mencakup aspek pengamatan.
-          Aktivitas siswa dalam menghubungkan titik-titik berpola
-          Hasil belajar siswa setelah pembelajaran berlangsung.
4.      Refleksi
Refleksi dilakukan setelah mengkaji tindakan yang telah dilakukan pada siklus perama. Data yang diperoleh melalui observasi langsung oleh peneliti dianalisis secara deskriptif.  Dari lembar observasi akan didapat informasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung baik aktivitas yang mendukung proses pembelajaran ataupun aktivitas yang tidak mendukung proses pembelajaran. Selain itu juga ditemukan kendala selama pelaksanaan tindakan yang harus diantisipasi pada pelaksanaan siklus berikutnya.
Berdasarkan analisis data  dan  kendala yang dihadapi pada siklus pertama maka dirancanglah scenario pembelajaran untuk siklus kedua.  Pada siklus kedua juga dilakukan observasi untuk mengumpulkan data aktivitas latihan siswa. dengan melakukan analisis data pada siklus kedua ini akan didapat gambaran umum aktivitas siswa dalam latihan motorik halus.
1.      Instrumen
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah
a.       Observasi. Penulis membuat tabel pedoman observasi penelitian yang berisi indikator untuk meningkatkan kemampuan motorik halus dengan finger painting bagi siswa Down  Sindrome di SLB Wacana Asih Padang dan diceklis oleh kolaborator.
b.      Catatan Lapangan. Catatan lapangan diperoleh dari kelas tempat anak belajar sesuai dengan fakta tanpa ada rekayasa.
c.       Studi Dokumentasi. Peneliti menggunakan alat dokumentasi dengan harapan dapat mendukung dan melengkapi data penelitian. Kegiatan dapat diabadikan sehingga guru sebagai peneliti dapat melihat dan menganalisa kegiatan yang telah dilakukan. Hasil pencermatan akan memberikan hasil yang akurat sehingga dapat memberikan informasi yang lengkap guna melakukan analisis dan reflektif sebagai perbaikan tindakan selanjutnya.
2.      Analisis Data
Teknik analisa data yang penulis gunakan bersifat kualitatif yaitu menggambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisah menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan. Menurut Tim Pelatih PGSM (1999) analisa data dapat dilakukan tiga tahap yaitu:
a.       Reduksi Data
Banyaknya data yang diperoleh di lapangan perlu direduksi yaitu dengan cara merangkum data yang didalamnya terdapat proses dan pernyataan  peneliti yang telah ditetapkan sesuai dengan pelaksanaan penelitian. Semua data yang telah disimpulkan tetap menggambarkan proses pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung dan hasil yang dicapai oleh siswa
b.      Paparan Data
Penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif yang menggambarkan pelaksanaan proses belajar dalam meningkatkan kemampuan motorik anak Down Sindrome
c.       Penyimpulan
Merupakan proses pengambilan intisari dari sajian data penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya dalam bentuk kalimat singkat, padat,tetapi mengandung arti yang luas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus I
Tindakan dilakukan Sembilan  kali pertemuan, setiap kali pertemuan merupakan sub siklus. Sebab dalam tiap pertemuan dilakukan pengamatan terhadap latihan motorik halus dengan finger painting

Pada tindakan I ini, motorik ini terdiri atas 9 sub aspek yaitu membuat garis tegak, garis datar, garis miring, garis lengkung, lingkaran, garis tegak berlabirin,garis datar berlabirin. garis miring berlabirin, lingkaran berlabirin.  

a)      Membuat garis tegak
Sebelum membuat garis tegak penulis memberikan latihan motorik halus dengan menggunakan pasir yang ditempatkan pada nampan yang berukuran  40 cm x 30 cm. Latihan diberikan selama +  15 menit. Anak meremas. Menekan dan menggosokan pasir pada nampan dengan tangannya.
Setelah itu anak mencuci tangannya . Kegiatan dilanjukan dengan membuat garis tegak dengan cara mnghubungkan titik-titik berpola yang sudah disediakan pada dua lembar kertas. Guru meminta oarng tua ikut bekerja sama dengan melatih anak untuk meremas dan menggosokan tangannya dengan pasir di rumah.
b)      Membuat Garis datar
Penulis meletakan nampan yang sudah berisi pasir. Pasir yang disediakan agak lembab dengan tujuan agar anak bisa menumpuk dan membentuk pasir tersebut dengan tangannya. Siswa diberi intruksi untuk mengunakan pasir itu sebagai alat untuk melatih motoriknya. Setelah membersihkan tangan kegiatan dilanjutkan dengan membuat garis berpola berbentuk garis datar pada kertas yang sudah disediakan sebanyak dua lembar. Guru mengarahkan dan memotifasi siswa untuk membuat garis datar tersebut.
c)      Membuat garis miring
Pertama penulis membimbing siswa untuk menggunakan pasir sebagai media pasir yang digunakan agak kering sehingga  bisa digunakan dengan ujung jari telunjuk dan jempol. Penggunaan pasir dengan cara menggesekan ujung jari  jempol dan telunjuk  yang terlebih dahulu telah mengambil pasir dengan ujung jari tersebut. Selanjutnya penulis mengenalkan garis miring dan menjelaskan cara membuatnya. Siswa membuat garis miring dengan cara menghubungkan titik-titik berpola.
d)      Membuat garis lengkung
Pertama penulis membimbing siswa untuk menggunakan pasir sebagai medi untuk latihan motorik halus dengan menggunakan digu nakan kedua tangan. Penggunaan pasir dengan cara menggerakan ujung sampai menekankan kedua telapak tangan  . Selanjutnya penulis mengenalkan garis lengkung dan menjelaskan cara membuatnya. Siswa membuat garis lengkung dengan cara menghubungkan titik-titik berpola.
e)      Membuat lingkaran
              Sebelum membuat lingkaran latihan motorik yang diberikan tetap menggunakan pasir. Nampan yang di berikan ditukar dengan yang lebih besar supaya anak lebih leluasa menggunakan pasir untuk latihan motorik. Anak diberi waktu untuk meremas-remas pasir dan menepuknya dengan tangan selama + 15 menit anak diberi kebebasan berfantasi dengan pasir. Kegiatan berikutnya dilanjutkan dengan membuat lingkaran. Sebelumnya dijelasakan bentuk lingkaran dan cara menarik garis lingkaran. Siswa membuat lingkaran dengan cara menghubungkan garis titik-titik berpola.
f)       Membuat garis tegak berlabirin
Pertama penulis membimbing siswa menggunakan pasir yang tersedia dinampan untuk latihan motorik. Siswa diminta untuk menggosokan kedua tangannya sampai pasir habis. Kegiatan itu berlangsung selama lima belas menit. Setelah itu anak menghubungkan garis berpola berbentuk garis datar berlabirin.
g)      Membuat garis datar berlabirin
Kegiatan dimulai dengan mempersiapkan pasir , nampan . dan kertas berpola. Yang akan dipergunakan oleh siswa. Setelah itu melakukan kegiatan meremas-remas pasir . Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan guru. Guru memegang tangan siswa lalu mengisikan pasir ketangannya . Siswa menggenggam pasir yang ada ditangannya itu. Guru meminta anak membuka kedua telapak tangan kemudian mengisi kedua nya dengan pasir. Siswa meremasnya dengan sekuat tenaga. Kegiatan dilanjutkan dengan membuat garis datar berlabirin dengan menghubungan titik-titik berpola.
h)      Membuat garis miring berlabirin
Setelah mempersiapkan peralatan seperti panci plastik dan pasir kegiatan dimulai dengan melakukan memutar pasir dengan tangan kepinggir panci plastik dengan cepat. Kegiatan dilanjutkan dengan menjelaskan garis miring berlabirin. Lalu siswa membuat garis miring berlabirin dengan menghubungkan titik-titik berpola
i)        Membuat lingkaran berlabirin
Setelah mempersiapkan peralatan seperti panci plastik dan pasir kegiatan dimulai dengan melakukan memutar pasir dengan telapak tangan, menekan- nekan pasir dan meremas pasir.Kegiatan dilanjutkan dengan menjelaskan lingkaran berlabirin. Kegiatan berikutnya siswa membuat lingkaran  berlabirin dengan menghubungkan titik-titik berpola.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar