Kamis, 07 Januari 2016

Belajar Mengajar ABK di Negeri Sakura




http://www.koran.padek.co/read/detail/44259
Belajar Mengajar ABK di Negeri Sakura


Wartawan : Lifya - Guru SLBN 1 Padang - Editor : Riyon - 23 November 2015 11:28 WIB    

Ada beberapa cacatan kecil yang terselip yang ingin saya bagikan sepulang berkunjung ke sekolah Chibakenritsku Tokubetsu Shien Gakko Nagareyama Kotogakuen (Mukuno Sensei ).
Menuju Chiba bisa dilalui lewat terowongan Tokyo Bay Aqualine dari Kota Kanagawa. Terowongan ini berada di dalam laut sepanjang lima belas kilo meter dihiasi dengan lampu yang berwarna keemasan. Mobil melaju dengan kecepatan yang konstan tidak ada goncangan yang dirasakan sungguh tenang dan nyaman.
Dengan terowongan ini maka perjalanan bisa menghemat waktu perjalanan yang ditempuh selama dua jam 15 menit. Segala keindahan dan kenyamanan Chiba dapat dirasakan ditambah cerita dari pemandu wisata yang beraksen Jepang.
Jarak tempuh dengan mobil dari Tokyo ke Chiba sekitar 40 menit. Kota ini bukan hanya sekadar pintu masuk ke Jepang, tapi juga gambaran awal indahnya Negeri Matahari Terbit. Di sini berada sebuah Sekolah Luar Biasa Mukuno Sensei. 
Kehadiran penulis bersama rombongan sudah ditunggu pihak sekolah. Sebelum memasuki ruangan rombongan dipersilakan untuk mengganti sepatu yang digunakan dengan “suripa”. Dalam bahasa Jepang “suripa” adalah sandal. Budaya Jepang membiasakan memakai sandal di dalam rumah. Banyak sandal yang disediakan. Sandalnya mirip sandal hotel di Indonesia cuma bahagian depannya tertutup. Antara sandal kiri dan kanan sama bentuk polanya.
Jadi tidak ada kemungkinan kehilangan pasangan atau tertukar. Semua dengan ukuran yang sama besar satu sama lainnya. Suripa disimpan di dalam kotak dengan posisi menghadap keluar. Posisi ini juga berlaku untuk sepatu yang diletakan setelah sandal dikeluarkan. Apabila tidak menggunakan kotak penyimpan pulang dari bepergian sesampai di depan pintu orang Jepang akan berbalik dengan posisi membelakangi pintu.baru sepatu dilepas.
Jadi sewaktu mau pergi tinggal memakai sandal tersebut tanpa harus berbalik badan terlebih dahulu. Atau mencari-cari pasangan sepatu yang akan dipakai. Setelah masuk kedalam ruangan, didalam sudah menanti sepasang sandal yang siap digunakan untuk dipakai didalam ruangan. Demikianlah cara berfikir orang Jepang yang selalu membuat kemudahan untuk diri mereka sendiri. Di samping untuk menjaga kerapian juga untuk menghemat waktu.
Rombongan disambut oleh kepala sekolah, utusan kementrian daerah setempat serta guru-guru yang mengajar di sekolah itu. Hal yang membuat penulis terkesan adalah kebersihan sekolah ini luar biasa bersihnya. Jangankan sampah debu pun tidak ada. Kebersihan bagi mereka merupakan prioritas nomor satu karena menyangkut dengan usaha yang akan mereka pasarkan.
Bagi siswa berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah favorit ini, memulai segala sesuatu dari hal yang mereka sukai sungguh hal menyenangkan. Orang tua tidak lagi susah untuk membangunkan anaknya untuk berangkat setiap hari ke sekolah. Karena mereka dengan senang hati rindu untuk datang ke sekolahnya tidak dengan berat hati untuk memulai harinya. Mulai dari membuka mata, beralih ke kamar mandi dan diguyur air.
Guru dan kepala sekolah tahu persis dengan kesukaan siswanya. Sehingga murid-murid di sini  dikondisikan untuk mengerjakan hal yang menyenangkan baginya.
Tidak ada pelajaran yang memusingkan kepala yang ditemukan di pagi hari. Sekolah mengambil inisiatif yaitu pada jam-jam pertama pelajaran difokuskan pada kegiatan vokasional. Kegiatan ini dilakukan di pagi bukan di sore hari untuk mengantisipasi hal yang tidak menyukai untuk mengikuti pelajaran yang bersifat akademis. 
Sesuai dengan keinginan siswa di sekolah ini yang lebih suka bekerja dari pada belajar. Hal ini sangat sesuai dengan tuntutan psikologis dalam menghadapi siswa karena prinsipnya sesuatu yang  tidak disukai apabila dipaksakan akan menjadi beban baginya.
Jadi semua beranjak dari hal yang disukai siswa bermula dari hal yang disukai dilanjutkan dengan pujian terhadap hal yang telah dilakukan siswa. Ini dapat penulis rasakan saat siswa menyambut kedatangan tamu dari Indonesia dengan nyanyian yang memukau oleh vocal group sekolah Mukuno Sensei. 
Seperti konser saja layaknya barisan yang rapi dengan menggunakan seragam putih bagian atas dan abu-abu bagian bawah. Saat tangan dirigen diangkat serentak kaki mereka menghentak. Semua terpesona suguhan yang indah bahkan sampai lupa bahwa mereka semua anak-anak dengan gangguan intelektual. Satu nyanyian didendangkan hal yang sangat sederhana dilakukan kepala sekolah untuk menumbuhkan rasa percaya diri siswanya. 
Kepala sekolah langsung mengelukan siswanya dan meminta pujian atas pertunjukan anak didiknya. Setelah satu lagu dipersembahkan kembali kepala sekolah mengelu-elukan sebuah nama. Salah seorang murid maju untuk menggantikan dirigen pertama  penampilan yang tak kalah menarik dengan pertunjukan pertama dengan pecahan suara yang balance. 
Wajah mereka berseri-seri saat mereka selesai menyuguhkan pertunjukan dan bertambah sumringah setelah dikatakan bahwa yang menyaksikan pertunjukan yang hebat ini adalah orang-orang berprestasi di Indonesia yang datang dari berbagai daerah. Sembari mengacungkan jempol mereka bertepuk tangan dengan riuh. Arigatou, arigatou kata mereka sambil membungkukan badan.
Ini sebuah contoh kecil yang dapat penulis saksikan secara langsung. Semua yang dilakukan  akan menimbulkan rasa percaya diri bagi siswa sambil menyampaikan bahwa mereka sedang melakukan latihan karena akan mengikuti lomba paduan suara. Yang tahun kemaren telah berhasil menyabet juara.
Kalau rasa suka sudah ada tentu akan mempermudah dalam mengarahkan dan mendidik siswanya. Suatu pelajaran yang menyentuh hati. Terkadang  kita lupa mengapresiasi jerih payah mereka yang diingat hanya kesalahan, kemalasan, kekurangan dan kenakalan mereka. 
Kegiatan yang disukai mereka ini dilakukan setiap pagi termasuk kegiatan berenang bagi seluruh siswa tanpa kecuali. Di sekolah ini difasilitasi dengan kolam renang. “Ini tempat berenang siswa kami  bukan untuk umum  dan bukan untuk alumni,” jelas kepala sekolah saat berada di pintu kolam renang sekolah Mukuno Sensei. Bagi anggota club renang latihan dilakukan setiap hari. Bagi siswa lain belajar renang hanya 2 jam setiap hari. 
Ada empat keahlian yang dilakukan di sekolah ini, di antaranya kegiatan pertanian, pertamanan. menjahit dan keperawatan. Semua yang bekerja dipersiapkan untuk bisa bekerja di tengah masyarakat agar bisa hidup mandiri tanpa rasa belas kasihan orang.  
Yang sangat diperhatikan adalah kualitas dari hasil pekerjaan walau yang berkarya anak-anak berkebutuhan khusus mereka tidak mau ada orang yang membeli hasil pekerjaan mereka dikarenakan kasihan. Hasil pekerjaan yang sudah jadi dijualkan oleh siswa itu sendiri sehingga menimbulkan rasa senang dan kepercayaan diri mereka. Untuk keterampilan yang berbentuk souvenir siswa menjualnya langsung ke mall didampingi oleh orang tua . 
Saat berada di ruang keterampilan, banyak hasil keterampilan yang sudah jadi siap untuk dipasarkan. Mulai dari dompet dan tas dibuat dengan pekerjaan yang rapi. Hal yang membuat penulis tertarik adalah bahan dasar untuk membuat dompet tersebut dibuat dari bahan yang sangat bagus dengan motif yang lucu-lucu. Ini sudah merupakan satu daya tarik bagi pembeli. Semua diperbolehkan membeli hasil karya mereka dan itu langsung mereka yang melayani.
Program yang disusun oleh sekolah dalam menangani anak-anak bekebutuhan khusus ini dirancang sedemian rupa sehingga mereka bisa hidup mandiri di tengah masyarakat.
Mereka tidak hidup dengan rasa belas kasihan tapi mereka tetap dihargai sebagai seorang manusia normal layaknya. Mereka dilatih dengan keterampilan mulai dari mengenal bahan sampai mengolah dan memasarkannya. Sehingga mereka mempunyai lapangan pekerjaan sendiri. Ini akan mengangkat harkat martabatnya dimata khalayak ramai.  
Berkelilig di sekolah Mukuno Sensei banyak pelajaran yang menginspirasi. Tak terasa waktu pun berlalu, penulis melambaikan tangan diantar dengan sebuah bungkukan sebagai tanda kehormatan. Mengakiri hari menyenangkan di Chibakenritsku Tokubetsu Shien Gakko Nagareyama Kotogakuen. Mata aimasho Mukuno Sensei sampai jumpa lagi Mukuno sensei. Sayonara mada daisuki na hito. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar